Kamis, 04 Juni 2026 09:27

MIPA Academic Talk Series 25 Bahas Perkembangan Fotonik dan Sensor Optik untuk Masa Depan Kesehatan

4 Juni 2026 ─ Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Andalas kembali menyelenggarakan MIPA Academic Talk (MAT) Series 25 pada Selasa, 2 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung secara hybrid di Ruang Sidang Lantai 2 Dekanat FMIPA Universitas Andalas dan melalui Zoom Meeting ini mengangkat tema Expand Knowledge for the Future of Photonics and Optical Sensing Technologies. Acara menghadirkan dua narasumber dari Institute of Microengineering and Nanoelectronics (IMEN), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), yaitu Dr. Dilla Duryha Berhanuddin dan Dr. Nur Hidayah Azeman.

Kegiatan dipandu oleh moderator Dr. Meqorry Yusfi, M.Si. dan dibuka secara resmi oleh Dekan FMIPA Universitas Andalas, Prof. Mai Efdi. Dalam sambutannya, Prof. Mai Efdi menyampaikan bahwa MIPA Academic Talk Series merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap bulan sebagai wadah berbagi ilmu pengetahuan, berdiskusi, bertukar ide, serta membuka peluang kerja sama riset dan pendidikan. Beliau mengucapkan terima kasih kepada kedua narasumber dari UKM yang telah berkenan berbagi pengetahuan mengenai perkembangan teknologi fotonik dan sensor optik.

Menurutnya, perkembangan teknologi fotonik dan sensor merupakan salah satu pilar penting dalam kemajuan sains dan teknologi modern yang memiliki peran besar dalam berbagai bidang, seperti kesehatan, kecerdasan buatan, industri, komunikasi, dan berbagai sektor lainnya. Kehadiran narasumber dari UKM juga diharapkan dapat memperkuat kolaborasi penelitian dan pendidikan antara FMIPA Universitas Andalas dan Universiti Kebangsaan Malaysia sehingga mampu mendorong kemajuan kedua institusi di masa mendatang.

Pemaparan materi pertama disampaikan oleh Dr. Dilla Duryha Berhanuddin dengan tema “Silicon Photonics: Light as the Carrier of Future Information.” Pada awal presentasi, beliau memperkenalkan Institute of Microengineering and Nanoelectronics (IMEN) UKM sebagai salah satu pusat penelitian unggulan di bidang mikroelektronika dan nanoelektronika. Selanjutnya, Dr. Dilla menjelaskan konsep dasar foton dan teknologi fotonik, berbagai aplikasi teknologi fotonik dalam kehidupan sehari-hari, perkembangan teknologi silikon fotonik, hingga prospek teknologi tersebut di masa depan.

Beliau juga membahas tantangan lingkungan yang dihadapi dalam pengembangan silikon fotonik beserta berbagai solusi yang dapat diterapkan. Selain itu, dipaparkan pula teknik-teknik yang digunakan untuk menghasilkan cahaya pada material silikon yang secara alami memiliki keterbatasan sebagai sumber cahaya. Pada akhir pemaparannya, Dr. Dilla menjelaskan bahwa pemanfaatan G-center serta implementasi unsur boron dan karbon menjadi salah satu pendekatan yang menjanjikan dalam pengembangan teknologi silikon fotonik untuk mendukung sistem komunikasi dan komputasi masa depan.

Materi kedua disampaikan oleh Dr. Nur Hidayah Azeman dengan tema “Optical Sensor Technology for Kidney Disease Detection.” Dalam paparannya, beliau menjelaskan bahwa penyakit ginjal kronis merupakan salah satu permasalahan kesehatan global yang sangat serius. Saat ini terdapat sekitar 276 juta kasus penyakit ginjal di dunia dengan lebih dari 1,2 juta kematian, sehingga diperlukan metode diagnosis yang lebih cepat, akurat, dan mudah diakses.

Dr. Nur Hidayah kemudian menjelaskan berbagai jenis sensor optik yang digunakan dalam bidang kesehatan, khususnya untuk mendeteksi penyakit ginjal. Salah satu teknologi yang menjadi fokus penelitian adalah Localized Surface Plasmon Resonance (LSPR), yaitu teknologi sensor optik yang mampu mendeteksi perubahan konsentrasi biomolekul secara sensitif dan selektif. Materi yang dibahas meliputi prinsip kerja LSPR, proses fabrikasi dan pengaturan sistem sensor, pengembangan material sensor, serta evaluasi performa sensor dalam mendeteksi kreatinin sebagai salah satu indikator fungsi ginjal.

Pada sesi penutup, beliau menyampaikan bahwa integrasi teknologi sensor optik canggih dengan material fungsional yang direkayasa memungkinkan terciptanya sistem deteksi penyakit ginjal yang sensitif, selektif, dan non-invasif. Teknologi ini mendukung diagnosis dini, pengobatan, dan pemantauan penyakit ginjal, sekaligus membuka peluang pengembangan perangkat diagnostik point-of-care yang cepat, portabel, dan terjangkau. Ke depan, teknologi tersebut berpotensi diterapkan pada platform kesehatan personal, perangkat pemantauan real-time, serta sistem layanan kesehatan yang lebih luas dan mudah diakses masyarakat.

Setelah kedua pemateri menyampaikan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif. MIPA Academic Talk Series 25 dihadiri oleh sekitar70 peserta dari berbagai kalangan yang terdiri atas dosen, peneliti, dan mahasiswa. Melalui kegiatan ini, FMIPA Universitas Andalas berharap dapat terus memperluas wawasan akademik sivitas kampus sekaligus memperkuat jejaring kerja sama internasional dalam bidang pendidikan dan penelitian.

Read 86 times